Jumat, 19 September 2014

                                          MASUK NERAKA GARA GARA AIR WUDHU
Berikut ini adalah cerita tentang dua orang dengan kondisi yang kontras: seorang laki-laki kaya raya dan perempuan papa. Dalam keseharian pun, keduanya juga tampak begitu berbeda. Sang lelaki hidupnya padat oleh kesibukan duniawi, sementara wanita yang miskin itu justru menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah.

Kesungguhan dan kerja keras lelaki tersebut membawanya pada kemapanan ekonomi yang diidamkan. Kekayaannya tak ia nikmati sendiri. Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya merasakan dampak ketercukupan karena jerih payahnya. Lelaki tersebut memang sedang berkerja untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.

Nasib lain dialami si perempuan miskin. Para tetangganya tak menemukan harta apapun di rumahnya. Kecuali sebuah bejana dengan persediaan air wudhu di dalamnya. Ya, bagi wanita taat ini, air wudhu menjadi kekayaan yang membanggakan meski hidup masih pas-pasan. Bukanah kesucian menjadikan ibadah kita lebih diterima dan khidmat? Dan karenanya menjanjikan balasan yang jauh lebih agung dari sekadar kekayaan duniawi yang fana ini?

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah mengisahkan, suatu ketika ada seorang yang mengambil wudhu dari bejana milik perempuan itu. Melihat hal demikian, si perempuan berbisik dalam hati, “Kalau air itu habis, lalu bagaimana aku akan berwudhu untuk menunaikan sembahyang sunnah nanti malam?”

Apa yang tampak secara lahir tak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya. Diceritakan, setelah meniggal dunia, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki kaya raya itu mendapat kenikmatan surga, sementara si perempuan papa yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Apa pasal?

Lelaki hartawan tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak tak lantas membuat larut dalam kemewahan, cinta dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidup, menunjang keadaan untuk mencari ridla Allah.

Pandangan hidup semacam ini tak dimiliki si perempuan. Hidupnya yang serbakekurangan justru menjerumuskan hatinya pada cinta kebendaan. Buktinya, ia tak mampu merelakan orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Ketidakikhlasannya adalah petunjuk bahwa ia miskin bukan karena terlepas dari cinta kebendaan melainan “dipaksa” oleh keadaan.

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia direngkuh untuk memenuhi kadar kebutuhan dan memaksimalkan keadaan untuk beribadah kepada-Nya.
Nasihat ulama sufi ini juga berlaku kebalikannya. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebuh dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.

Minggu, 14 September 2014

Di tengah krisis kebanggaan pada seni bela diri ini, belakangan ini orang asing justru berbondong-bondong menunjukan kekaguman dan memberikan penghargaan. Film laga The Raid yang diputar serempak secara internasional, mengharumkan olahraga pencak silat di mata dunia. Hal ini menjadi suatu tanda bahwa olahraga pencak silat berhasil meninggalkan jejak kagum.
Thailand punya Muay Thai, Brazil punya Capoeira, dan kini Indonesia punya Silat untuk menarik wisatawan. Mengapa tidak Pencak Silat mendunia. Mungkin kita bisa belajar dari China yang menjadikan sekolah bela diri sebagai daya tarik wisata. Siapa yang tidak kenal dengan Shaolin Temple, tempat orang belajar Kung Fu.
Pencak Silat merupakan olaharaga seni bela diri sarat filosofi. Adapun empat aspek utama yang terkandung dalam Pencak Silat memiliki filosofi yang sangat mendalam. Keempat aspek itu, ialah aspek mental spirituial yaitu membangun dan mengembangkan kepribadian mulia seseorang, aspek seni budaya yaitu kesejahteraan yang digambarkan melalui musik dan busana tradisional yang dikenakan, aspek beladiri yaitu pertahanan diri, dan aspek olahraga.
Begitu banyak anak muda yang lebih memilih untuk belajar kung fu, judo, aikido hingga taekwondo. Sudah saatnya Pencak Silat menjadi “tuan di rumahnya sendiri”, dengan semakin dikenal dan dicintai para pewaris budaya bangsa. Kalau bukan kita, siapa lagi pewaris budaya Bangsa Indonesia.

Jumat, 12 September 2014

iBerita.com Gunung Slamet Terkini, Babi Hutan Mulai Turun Gunung. 

 Situasi Gunung Slamet terus mengalami peningkatan aktivitas vulkaniknya sejak beberapa hari terakhir ini. Bahkan ada waga di Desa Dukuhbenda, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal yang mengaku telah melihat adanya aktivitas satwa babi hutan yang telah turun gunung.
Rudi, nama warga desa seperti yang dilansir oleh laman Tempo.co mengaku telah melihat anjing dan babi hutan menuruni lereng Slamet. Hal itu dibenarkan oleh Makmun, Kepala Desa Begawat, Kecamatan Bumijawa. Rudi melihat dua babi hutan melewati kebun the yang ada di desa itu.
Dukuhbenda dan Begawat adalah desa yang terletak di sebelah barat puncak Gunung Slamet. Itu adalah desa yang jaraknya hanya 12-15 km dari puncak gunung slamet. Dari kawasan itu, warga dapat melihat lava pijar yang keluar dari dapur magma gunung tertinggi di Jawa Tengah itu.

Gunung Sangeang Meletus, 14 Warga Hilang dan 3.000 Mengungsi

dakwatuna.com – Bima. Sebanyak 14 warga hilang dan 3000 orang menjadi pengungsi setelah Gunung Sangeang Api, Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meletus yang kedua kalinya, Sabtu,  31 Mei 2014,  pukul 01.20.
Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bima, Suryadin, mengatakan saat ini petugas gabungan sedang mencari 14 warga yang hilang tersebut.
Berdasarkan laporan keluarga yang kehilangan anggotanya, nama-nama warga hilang kemudian diumumkan di Posko yang ada di lapangan Tawali, sekitar 10 kilometer dari Sangiang daratan
“Mereka tercerai-berai saat Sangeang meletus. Semua panik. Ledakan susulan Sangeang ini di luar dugaan kami,” kata Suryadin.
Suryadin memperkirakan pengungsi berjumlah 3.000 jiwa. Mereka berasal dari Sangeang Pulo, Sangenag Darat, Desa Tadewa, Desa Hidirasa, Desa Tawali dan Oi Tui, dan sekitarnya. Juga di Desa Pai dan Desa Poja Kecamatan Sape.
Petugas kesulitan mendapatkan data jumlah pengungsi yang akurat karena Sangeang Api meletus lebih cepat dari perkiraan. Ia menyebutkan rentang waktu dari masa waspada ke siaga. Pergantian status dari waspada ke siaga cuma beberapa jam.
“Hal ini di luar prediksi kami. Waktu meletus yang tiba-tiba saat tengah malam, saatnya orang tertidur, membuat ribuan warga tak siap dan sebagian dari mereka tercerai-berai,” kata dia.
Personel PMI dan elemen tim penolong lainnya terus mendata jumlah pengungsi. Banyak warga mengungsi ke Kota Bima karena merasa fasilitas dan persediaan logistik di sana lebih memadai. (tempo/sbb/dakwatuna)

Senin, 08 September 2014















Bismillahirrahmanirrohim,,,
sahabat semua pagi yang cerah seperti sekarang ini jangan sampai kita sia-siakan, atu kita lalaikan, sukurilah dan teruslah bersyukur, karna syukur merupakan entuk terimakasih kepa Allah SWT. mari jadikan seonggok tanah yang ada pada diri kita sebagai mahluk yang Tuhan yang punya rasa trimaksih, teruslah berbuat baik sebanyak yang kita mampu, tetaplah optimis dalam hidup ini, berusalah dan berdoalah,
Sesungguhnya obsesi mausia tergambar dari doanya. Untuk mengetahui apa obsesi seseorang, anda bisa perhatikan doanya.
Dalam al-Quran, Allah memuji sekelompok hamba-Nya karena doanya. Di dalam al-Quran pula, Allah mencela sebagian hamba-Nya karena doanya.
Allah mencela manusia yang obesesinya hanya dunia,
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiada bagian (yang menyenangkan) baginya di akhirat. (QS. al-Baqarah: 200)
Allah juga mencela harapan orang yahudi yang rakus dunia,
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ
Sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling rakus kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih rakus lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. (QS. al-Baqarah: 96).

Allah juga mencela para pengingkar nabi yang berharap akan diturunkan Malaikat kepada mereka, atau bisa melihat Tuhannya.
وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا
Orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami itu mengatakan, “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”. (QS. al-Furqan: 21)

Sebaliknya, Allah memuji beberapa hamba-Nya karena keindahan doanya. Karena doanya menunjukkan betapa indahnya obsesi dan cita-citanya.
Allah memuji pasukan Thalut yang berdoa agar diberi kesabaran ketika perang,
وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan Kami, tuangkanlah kesabaran atas diri Kami, dan kokohkanlah pendirian Kami dan tolonglah Kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250)

Allah memuji doanya ulama yang memohon agar diberi hidayah dan kekuatan memegang ilmu agama,
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Orang-orang yang kokoh ilmunya mengatakan, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang beraka.“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (QS. Ali Imran: 7 – 8).

Allah memuji doa ibadurrahman, yang berharap bisa menjadi pemimpin dalam masalah agama,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
(diantara ciri ibadurrahman adalah) orang orang yang berdoa, “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Furqon: 74)

nah sekarang Perhatikanlah doamu, karena do'amu  adalah obsesimu.

Minggu, 07 September 2014

pagar nusa


assalamu'alaikum....
manusia diciptakan oleh Allah SWT, mempunyai satu tugas yaitu menjadi kholifah di muka bumi ini, baik dalam cakupan luas atau sempit, dari kholifah negara sampai kholifah rumah tangga, bahkan kholifah untuk dirinya sendiri,
tugas inilah yang nantinya akan di mintai pertanggung jawabanya di hadapan Allah Robbul'alamin.
yang jadi pertanyaan di benak kita, apakah sekarang kita sudah melaksanakan tugas itu dengan baik?